Yamaha NMax

Mengulas Wabah yang Pernah Menjangkiti Pulau Jawa

  Selasa, 14 April 2020   Adi Ginanjar Maulana
Grafis Covid-19.(Setkab.go.id)

SEMARANG, AYOBANTEN.COM -- Wabah Covid-19 saat ini masih menjadi perhatian dunia. Bahkan beberapa waktu lalu World Health Organization (WHO) menyatakan Covid-19 sebagai sebuah pandemi.

Tak hanya Covid-19 yang saat ini mewabah, ternyata wilayah Jawa pernah pula mengalami sejumlah wabah yang dianggap mematikan saat itu, beberapa di antaranya adalah malaria, kolera, pes, cacar, dan influenza.

Dosen sekaligus Sejarawan dari Universitas Diponegoro (Undip) Prof. Singgih Tri Sulistiyono mengatakan, Indonesia khususnya Jawa sebagai wilayah tropis dengan cuaca yang memiliki kelembapan tinggi dan lingkungan yang basah, dalam sepanjang sejarahnya selalu menghadapi berbagai macam penyakit.

"Sehingga bisa dikatakan Indonesia sudah sejak lama mungkin menghadapi berbagai macam endemi penyakit yang muncul dari masyarakat itu sendiri," ujarnya kepada Ayosemarang.com, Senin (13/4/2020).

Prof Singgih melanjutkan, pada 1815 penduduk Jawa baru mencapai sekitar 4 juta jiwa. Sedikitnya jumlah penduduk itu, kata dia, bukan karena masyarakat Jawa memiliki tingkat reproduksi yang rendah.

Penduduk yang sulit bertambah, jelasnya, ternyata disebabkan oleh sejumlah wabah penyakit yang tidak cukup dihadapi dengan ramuan tradisional saja.

"Jadi bisa dikatakan sejarah Indonesia ini penuh dengan tantangan menghadapi penyakit. Maka sebab itu sebelum ditemukan vaksin dan obat-obatan modern di abad 19 yang ditemukan di Eropa, itu pertumbuhan penduduk di Jawa sangat lamban sekali," lanjutnya.

Selain endemi, masyarakat Jawa juga harus dihadapkan dengan adanya pandemi yang merupakan penyakit global akibat kontak antarmanusia.

"Jadi meskipun penyakit itu dari luar, mungkin dari wilayah subtropis, namun ketika orang dari luar itu datang ke Indonesia, dan kontak dengan orang Indonesia, tentunya tak menutup kemungkinan penularan pun terjadi," ucapnya.

Cacar

Mengutip buku 'Sejarah Pemberantasan Penyakit di Indonesia', cacar pertama kali menjangkiti Batavia pada 1644. Penyakit tersebut masuk ke Batavia lalu menyebar ke seantero Jawa.

Karena saat itu penyakit terus menjalar, vaksin akhirnya diberikan kepada pribumi. Hingga akhir abad ke-18, cacar telah menewaskan buruh-buruh pekerja perkebunan dan melumpuhkan ekonomi.

Pada 1926, dr L. Otten berhasil menyempurnakan pembuatan vaksin dari larutan dalam gliserin menjadi vaksin kering in vacuo. Setelah itu, cacar tak lagi mewabah di Jawa.

Malaria

Salah satu wabah yang pernah melanda Indonesia lainnya adalah malaria. Dalam buku berjudul 'Jakarta Batavia: Esai Sosio-Kultural', malaria disebut mewabah di Batavia sejak 1733. Hingga 1900-an, malaria masih menjadi ancaman kesehatan masyarakat.

"Merebaknya malaria sebagai wabah disebabkan karena lingkungan yang belum sehat banyak rawa, nyamuk, sanitasi limbah belum sehat. Sehingga malaria jadi ancaman yang mematikan bagi pribumi saat itu," kata Singgih.

Kolera

Selain malaria, kolera juga sempat mewabah dan diperkirakan masuk ke wilayah Jawa pada 1800-an akibat hubungan dagang antara India dan Jawa melalui Malaka. Penyakit kolera disebut juga muntaber atau buang air terus menerus dan muntah-muntah.

Daerah yang pertama terindikasi penyakit kolera adalah daerah di sepanjang pantai utara Jawa, mulai dari Batavia, Semarang, hingga Surabaya. "Kolera ini dikarenakan juga kurangnya pengetahuan hidup bersih masyarakat pribumi saat itu. Contohnya kebiadaan buang air di sungai dan tempat lain, dan lainnya," terang Singgih.

Kuman kolera, Vibrio cholerae, baru berhasil diidentifikasi pada 1883. Sepanjang 1821 sekira 125.000 orang di Jawa meninggal dunia gara-gara kolera. Tak hanya berjangkit di permukiman pribumi dan Cina, kolera juga berjangkit di permukiman orang Eropa yang sebenarnya memiliki kondisi yang lebih baik.

Pes

Selanjutnya, penyakit pes yang disebabkan oleh tikus (Xenopsylla cheopsis) juga pernah mewabah di Jawa.

Melansir dari kebudayaan.kemendikbud.go.id, penyakit pes adalah penyakit kuno dalam sejarah peradaban manusia. Pes diperkirakan berasal dari Asia Tengah atau Asia Timur. Inang bakteri Yersinia pestis adalah kutu tikus atau marmut.

Penyakit ini merambah ke Eropa dan Afrika bagian utara melalui Jalur Sutra yang merentang di pedalaman Eurasia. Pandemi pes pertama yang mematikan diperkirakan terjadi di Byzantium semasa Kaisar Justinian I pada 541-542. Tak hanya melumpuhkan Konstantinopel, wabah juga menyebar ke beberapa tempat di Asia dan Afrika.

Penyakit yang disebabkan bakteri Yersinia pestis ini termasuk ganas karena mudah menyebar dan menyerang bagian tubuh yang vital. Sampai abad ke-19, orang sudah mengenal tiga jenis pes: pes pada sistem limfatik alias pes bubo, pes pada aliran darah atau pes septikemik, serta pes pada paru-paru alias pes pneumonik.

Mereka yang terserang pes akan menunjukkan gejala demam, diare, nyeri otot, beberapa bagian tubuh menghitam (pes septikemik), pembengkakan di sekitar kelenjar getah bening (pes bubo), hingga batuk dan sesak napas (pes pneumonik). Orang bisa selamat, tetapi banyak yang mati tak sampai seminggu.

Hingga memasuki abad ke-20 tak pernah ada kabar adanya penyakit pes di Hindia Belanda. Penduduk kepulauan ini mengetahui wabah pes di luar negeri sebatas pada apa yang dikabarkan media massa dan mungkin buku sekolah.

Warga dan pemerintah kolonial justru lebih akrab dengan penyakit  seperti cacar, kolera, disentri, beri-beri, atau malaria.

Sementara itu, mengacu pada buku 'Sejarah Kesehatan Nasional Indonesia jilid II', pes masuk ke Indonesia pada akhir 1910. Sampai 1952 pes telah menyerang kurang lebih 240.000 orang di Pulau Jawa.

Influenza

Influenza juga pernah mewabah kawasan Hindia Belanda. Prof Singgih menjelaskan jika hal tersebut tertulis di dalam buku "Yang Terlupakan, Pandemi Influenza 1918 di Hindia Belanda". "Flu tersebut juga disebut juga dengan Flu Spanyol," katanya.

Wabah flu tersebut merupakan wabah penyakit yang terganas dalam sejarah umat manusia karena telah meminta korban juta-an orang. Diperkirakan antara 20 hingga 40 juta orang meninggal dunia karena wabah penyakit mematikan tersebut.

"Sejarah tentang wabah flu mematikan di Jawa itu juga dituturkan oleh Prof Dr. Slamet Iman Santoso, dalam memoarnya: 'Warna-warni Pengalaman Hidup R. Slamet Iman Santoso'. Dalam buku itu dia menuturkan situasi di Jawa ketika terjadi wabah flu pada tahun 1918," ungkapnya.

  Tags Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar