Yamaha

Transformasi Digital Solusi Alternatif di Masa Pandemi

  Rabu, 02 Desember 2020   Adi Ginanjar Maulana
Ilustrasi digital

Pandemi Covid-19 membuat banyak orang di Indonesia mengalami kesulitan ekonomi. Khususnya bagi mereka yang harus menerima Pemutusan Hubungan Kerja atau mereka yang bidang usahanya terimbas pandemi Covid-19 paling parah, sebut saja sektor Hospitality seperi perhotelan dan jasa wisata lainnya.

Lalu pemerintah mendorong masyarakat agar bisnisnya beralih dari cara analog ke digital. Atau setidaknya menggunakan media digital untuk pemasaran produk yang selama ini dilakukan secara analog dan konvensional.

Faktanya, tidak semudah membalikan tangan. Pemerintah sebagai regulator dan fasilitator tentu berusaha menyiapkan agar transformasi itu berjalan lancar. Mulai dari memberikan stimulus usaha, bantuan UMKM, bantuan langsung tunai, penyiapan infrastruktur digital hingga pelatihan bisnis digital bekerjasama dengan berbagai pihak. 

Namun sebenarnya, kuncinya akan kembali lagi kepada masyarakat sebagai impelementator dan eksekutor. Meski faktanya bisnis di dunia digital tak semudah membalikan tangan. Perlu perencanaan dan skill yang memadai, mengingat kompetitor di niche bisnis ini tidak sedikit.

Bisnis Digital merupakan bisnis dengan teknologi sebagai basis operasinya, baik secara internal maupun internal. Dalam konteks ini, masyarakat yang akan terjun ke bisnis digital wajib memiliki kemampuan dalam bidang teknologi informasi, atau setidaknya mengh ‘hire’ orang yang paham dunia digital.

Lalu bagaimana agar masyarakat yang memutuskan terjun ke bisnis digital mampu bertahan, struggle dan berkembang. Berikut beberapa langkahnya. 

Pertama, bangun persepsi yang benar tentang bisnis di duna digital, pahami seluk-beluknya dan apa saja yang harus dipersiapkan. Bisnis digital bukan sekedar memperluas penggunaan teknologi, tapi soal bagaiman memilih teknologi fundamental yang tepat untuk mengembangkan bisnis serta efektivitas dan efisiensi penggunaan medianya.

Kedua adalah Leadership. Terjun ke bisnis digital, sebenarnya sama dengan terjun ke bisnis lain, khususnya soal meraih cuan. “Tidak ada yang instan” Karena sejatinya mie instan pun harus direbus dulu sebelum bisa dikonsumsi.

Dalam bisnis digital, anda perlu waktu untuk dikenal, perlu waktu untuk dipahami dengan terus melakukan evaluasi dan update. 

Maka dari itu perlu kepemimpinan yang cerdas, mampu memberi semangat, keyakinan dan kemampuan untuk menyelesaikan berbagai masalah yang di hadapi.

Ketiga, Keunggulan Komparatif dan Kompetitif. Produk seperti apa yang akan anda jual dan pasarkan di dunia digital harus mempunyai keunggulan komparatif dan kompetitif. Lebih dari itu produk juga harus unik, dibutuhkan banyak orang, syukur-syukur ceruknya memiliki kompetitor yang lebih sedikit.

Keempat adalah Merumuskan Strategi. Dalam konteks ini, anda harus memikirkan melalu saluran media apa anda akan memasarkan produk, Bagaiman segmentasinya, positioningnya, serta target pasarnya. Lalu bagaiaman pengembangannya ke depan. Ini perlu dipikirkan agar tak sekedar terjun lalu menghilang. 

Kelima, Kembangkan Kemampuan. Dunia digital dan dunia teknologi informasi berkembang sangat pesat. Jika tak mau belajar dan mengembabngkan kemampuan jangan harap anda akan dapat bersaing dengan kompetitor yang juga terus mengembangkan kemampuannya.


Keenam, dalah Kemampuan dan Ide Baru. Kemampuan baru dalam bidang digital serta ide-ide bisnis baru perlu terus dicari dan dikembangkan. Sehingga tidak tergantung pada satu sektor bisnis digital saja. Semakin banyak bisnis yang dikelola via digital dan berkembang, maka akan semakin banyak cuan yang akan didapat.

  Tags Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar