Revolusi Pendidikan ala Komunitas Gerakan Sekolah

- Selasa, 30 Juli 2019 | 10:12 WIB
GSM menyasar peningkatan kualitas sejumlah sekolah pinggiran dan non favorit di berbagai wilayah, termasuk Tangerang Selatan. (Foto Antara Banten/Deden M Rojani)
GSM menyasar peningkatan kualitas sejumlah sekolah pinggiran dan non favorit di berbagai wilayah, termasuk Tangerang Selatan. (Foto Antara Banten/Deden M Rojani)

TANGERANG SELATAN, AYOBANTEN.COM--Komunitas Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) yang digagas M. Nur Rizal hadir seolah oase di tengah gurun kekakuan sistem pendidikan di Indonesia.

Dosen Teknik Informasi (DTETI) Universitas Gadjah Mada (UGM) itu di Tangsel, Jumat, menyampaikan skill yang dibutuhkan diera disrupsi sudah bergeser dari content skill (pengetahuan) menjadi life skill seperti kemampuan memecahkan persoalan yang belum terdefinisi sebelumnya, serta social skill yaitu kemampuan bernegosiasi, dan berkolaborasi. Dimana kemampuan itu harus dilandasi oleh semangat empati terhadap lingkungan dan manusia lain.

"Gerakan sekolah menyenangkan berawal dari gerakan akar rumput untuk mentransformasi gerakan pendidikan, khususnya ekosistem lingkungan belajar di sekolah," kata Pendiri GSM itu.

Gerakan non profit ini menyasar peningkatan kualitas sejumlah sekolah pinggiran dan non favorit di berbagai wilayah termasuk Tangerang Selatan agar tak mengalami kesenjangan dalam sistem pembelajaran dengan sekolah-sekolah lainnya.

Dosen penyandang gelar Ph.D dari Monash University itu menegaskan bahwa tujuan GSM untuk meningkatkan pola pikir atau kebiasaan cara berpikir dalam suatu bidang (Mindset) guru untuk memiliki ketrampilan masa depan.

"Dalam beberapa kali pertemuan yang kami lakukan, kali ini GSM dirasa telah mampu memberikan perkembangan kepada guru. Ada sekolah di Tangsel awalnya PPDBnya kekurangan, tapi setelah ikut GSM sekarang sekolah tersebut sudah nolak-nolak," katanya.

Baca juga: Wali Murid keluhkan pembelian buku di SDN Bambu Apus 01

Kendati demikian, ia meyakini gerakan menyenangkan sekolah yang diawali dengan gerakan akar rumput itu diyakini dapat diadopsi oleh pemerintah daerah.

Meski begitu, langkah-langkah konkrit Pemkot Tangsel guna mewujudkan inovasi-inovasi di dunia pendidikan tersebut secara tidak langsung dampaknya dirasakan oleh guru. Salah satunya guru SMPN 20 Tangsel, En Ifat Fatimah.

Halaman:

Editor: Adi Ginanjar Maulana

Tags

Terkini

Terpopuler

X