Menyusuri Sejarah Kota Kecil yang Hilang di Gunung Puntang

- Sabtu, 11 Januari 2020 | 21:40 WIB
Sisa bangunan bersejarah di Gunung Puntang Bandung
Sisa bangunan bersejarah di Gunung Puntang Bandung

BANDUNG, AYOBANTEN.COM--Udara sejuk dan teduh dengan awan kelabu yang menggelayut menyambut Ayobandung.com begitu tiba di gerbang masuk kawasan wisata Gunung Puntang, Kabupaten Bandung, Jumat (3/1/2020) siang. Setelah berkendara selama satu setengah jam dari pusat Kota Bandung via Dayeuhkolot-Banjaran, kami tiba di area wisata gunung sarat sejarah tersebut.

Selepas melewati gerbang, motor yang kami tumpangi melaju di aspal penuh bebatuan terjal menuju situs wisata pertama yang akan ditemui pengunjung begitu memasuki kawasan ini, yakni bumi perkemahan. Kala itu, meski cuaca mendung, sejumlah tenda nampak telah terpasang di sejumlah titik perkemahan.

Ketika melintasi titik-titik lokasi perkemahan, ada hal yang sangat mencuri perhatian kami di antara hamparan rumput dan rindang pohon pinus. Di sekeliling area kemah, terdapat cukup banyak reruntuhan bangunan tua yang hanya menyisakan separuh pondasi.

Seluruh sisa-sisa pondasi bangunan tersebut tersusun dari batu. Sebagian reruntuhan masih memiliki sejumlah sisi dinding-dinding yang telah rusak. Sebagian besar permukaannya ditumbuhi lumut dan rumput liar.

Sekilas, di bawah langit yang mendung dan diselubungi kabut, area perkemahan Gunung Puntang tersebut nampak tentram sekaligus juga 'misterius'. Seolah setiap puing yang masih berdiri menyimpan sejarahnya sendiri-sendiri.

Sisa Kemegahan Stasiun Radio Malabar

Bukan hanya di area kemah, di dataran lembah antara Gunung Puntang dan Gunung Haruman juga terdapat reruntuhan serupa dengan ukuran yang lebih besar. Di sana terdapat sisa bangunan dan bekas kolam besar dengan sudut yang meruncing. Kedua sisi di seberangnya melengkung menyerupai simbol hati.

"Kolam Cinta," demikian para wisatawan kerap menyebutnya. Ketika kami berjalan ke sebelah kanan bagian muka kolam, terdapat sejumlah anak tangga yang mengarah pada penampungan air. Bangunan penampung air nampak berusia sama dengan kolam dan reruntuhan lainnya.

Usut punya usut, keseluruhan reruntuhan bangunan yang terdapat di komplek wisata Gunung Puntang adalah peninggalan kantor Stasiun Radio Malabar. Stasiun radio tersebut merupakan penghantar pesan telegraf nirkabel bersejarah yang dapat menghubungkan Bandung dengan Den Haag, Belanda. Stasiun Radio Malabar dibangun sejak 1917 oleh peneliti bidang elektro berkebangsaan Belanda, Dr. Ir. C.J. de Groot.

Halaman:

Editor: Adi Ginanjar Maulana

Tags

Terkini

Terpopuler

X